Tampilkan postingan dengan label word-ing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label word-ing. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Agustus 2012

heelo

Biarkan aku memeluk masa lalu dan lekatkan aku pada bantal kegembiraan. Gulingkan mimpiku ketika aku tak mau beranjak dari pembaringan, ketika tak ada yang bisa kugapai untuk bangun, ketika tak ada yang bisa menopangku untuk berdiri, ketika tak ada alasan untuk beranjak, ketika tenaga dilenyapkan oleh kawah asa.

Biarkan aku diam dalam mimpiku yang pernah kurangkai. Mungkin dalam diam aku mampu merangkai diamnya mimpi yang terdiam. Yang di setiap celahnya butuh ketenangan dan kesenangan tapi tanpa suara, tanpa rasa, tanpa asa. Entahlah, rangkaian ini tak mampu kulanjut atau memang tak berlanjut. Mungkin dia sudah bosan dilanjut dengan kebohongan dan kelalaian juga kejujuran yang tidak berarti.

Biarkan kain rajutan ini tanpa warna. Meski telah kucelup tinta pelangi, pelangi itu akan segera melegam. Meski kucelup warna mega, meganya segera memudar. Meski kucelup warna langit, langitnya segera mengabu. Menyedot jutaan partikel cahaya matahari. Mengutuk senja digaris cakrawala. Mengusir venus dibalik lembutnya fajar.

Biarkan aku menulis sesuatu hal tentang hidup. Ada saat dimana aku merasa pandai, ada juga saat aku merasa jatuh. Meski aku tak mau terjatuh untuk kedua kalinya, namun semesta masih menyuruhku merasakan susahnya palung-palung kehidupan. Mungkin palung lain masih menjadi misteri semesta. Namun semesta belum berbisik tentang itu.


Sabtu, 14 Juli 2012

kon ngomong opo se ken part 2

Saya disini saja.
Menatap dari kejauhan.
Saya disini saja.
Menyapa dari tatapan.
Saya disini saja.
Mendoakan.
Saya disini saja.
Tidak akan melangkah melawan kenyataan.

kon ngomong opo se ken

Jiwa dan raga, kontradiksi.
Bagaimana mereka bisa saling mengerti?
Jiwa berseri-seri.
Raga menangisi.

Kamis, 24 Mei 2012

pengen bilang

Sebenarnya saya tidak suka terkesan berbicara dengan angin yang tiap hembusannya melenyapkan setiap kata yang keluar, tapi dunia ini memang semakin edan, yang hidup teranggap mati karena mereka tidak menunjukkan tanda kehidupan.
Ketika yang ditanya tidak terjawab
Ketika yang tertawa dalam diam
Ketika yang diam ditengah interaksi
Ketika yang jauh didekatkan dan yang dekat dijauhkan
Ketika yang penting diabaikan dan yang remeh diperhatikan.
Ketika yang dianggap dunia adalah genggaman sedangkan kenyataannya adalah bukan.

Minggu, 20 Mei 2012

belajar hidup

belajar melihat
belajar mengenal
belajar terbuka
belajar berbagi
belajar merasakan
belajar mengisi
belajar memahami
belajar menyayangi
belajar setia
belajar kecewa
belajar menyembunyikan perasaan
belajar berpisah
belajar mengenang
belajar tertawa diatas luka
belajar berdiri kembali
belajar hidup sendiri
belajar hidup mandiri
belajar bangkit

Rabu, 25 April 2012

beku, batu, bisu

aku dan kamu
ditemani waktu
dan embun yang membeku
dan pasir yang membatu
hingga hari berlalu
sampai masa tak tertentu
tetap tak menyurutkan esmu
tetap membeku dan membatu
walau udara makin bersuhu
tetap membeku dan membatu
dalam diamnya waktu
tetap membisu

beku, batu, bisu

Kamis, 19 April 2012

prosa-ing

lagi-lagi terpuruk disini. ditemani gelap dan mungkin secercah mimpi. mimpi yang tak pernah tergapai. ketika semua terbalut lumut. ketika malam kembali berkabut.

rasanya sakit dan mungkin mual sedikit. melihat kau, pembawa mimpi, membawa mimpi lain. mungkin senyummu terkembang, namun kau tahu? aku disini tersenyum, mengambang.

aku masih mencoba menemani mimpi. atau mungkin mimpi yang menemani? saling berteman. tapi dikala harapan mulai kubebankan ke pundakmu, mimpi, kumohon, bawakan ini, ini terlalu berat untuk pundakku. mungkin kau rela pundakmu kubuat sandaran, kubuat menyembunyikan perasaan, kubuat menangis, kubuat menyembunyikan tangis, tapi mungkin kau tak rela harapan ini kubebankan pada pundakmu.

rasanya ini jalanku sendiri. menapak terjalnya jalan berbatu, gemuruh yang menderu, dan beban dipundakku. aku dan kau, pembawa mimpi, memang berbeda. tidak usah memaksa, jika mimpi lain lebih indah buatmu, pergilah dengan mimpi itu. aku disini. mungkin tetap disini. terkubur debu jalanan. terpaku menatap rembulan. mungkin hingga mimpi ini terbingkai lumut, atau mungkin hingga mimpi ini kering diselimuti angin. tapi aku janji, pembawa mimpi, mimpi ini kusemat dalam hati. lubuk hati tersuci.

mungkin jika suatu hari kau kehilangan arah, pembawa mimpi, atau mungkin mimpi yang kau kejar itu tak lagi menemani keluh kesahmu, aku masih disini. duduk tenggelam di sofa hangat ini. sofa yang masih cukup lebar buatmu, buat cerita indahmu atau cerita pilumu yang pasti akan kau bagi kepadaku. mungkin suatu hari itu akan terjadi. dan aku berharap akan benar-benar terjadi. ketika kita kembali saling menemani, dalam segelas canda dan mungkin sekotak tangis. aku tahu kebersamaan kita, mimpi, tak akan abadi. dan aku sudah siap untuk perpisahan itu, mimpi, disaat kita tak lagi saling menemani. kuharap angin masih mau membawa kabarmu kemari.


ketika mimpi tak lagi menemani
kepada siapa aku harus berbagi
kepada mentari? atau kepada embun pagi?
bingkai mimpi ini masih rapi
jika kau mau kembali
ambillah ini, tapi jangan lupakan aku disini

Rabu, 04 April 2012

playing word-ing :3 part VIII

Bukan. Aku bukan tertahan.
Bukan juga melawan.
Tapi hati tak kunjung tertawan.
Yang kuyakinkan, saat kuhampiri wartawan.
Aku yakin, aku cantik dan menawan.


semacam...gagal menyusun kata ._."

Senin, 02 April 2012

playing word-ing :3 part VII

Aku ngga tau harus gimana. Semacam duka ditambah dusta. Tak mampu berkata, tapi juga tak mampu bersuka. Hanya bertanya sesuatu yang tak jelas ujungnya. Hingga bosan dengan segala yang ada.
Ingin menepi. Bermain dengan sepi. Cuma terasa sunyi. Namun tetap ditemani. Walaupun hanya dengan mimpi.
Merasa bosan dengan malu. Semacam sakit digetok palu. Aku melucu? Hahaha itu palsu. Tidak sepenuhnya palsu, tapi semacam hiburan baru.

playing word-ing :3 part VI

Bukan maksud, tapi kenapa jadi terhasut? Setelah sekian lama merajut, benang ini menjadi kusut!
Seperti pensil aku meraut, seperti cerita aku tertaut. Aku tak ingin terhanyut, tapi kenapa arus semakin membawaku ke laut?
Semakin terasa berdenyut, saat itu pula aku takut. Semacam hati yang selalu kalut, hanya mampu menutup mulut. 

Penuh tanya, penuh prasangka. Maaf, Tuhan, aku hanya tak mau jadi tersangka.

playing word-ing :3 part V

Dunia memang sempit.
Kadang waktupun mulai menyempit.
Tak terasa sakit yang melilit.
Hingga kulit tak lagi mengernyit.

Jangan dengar aku.
Bukan hatiku yang berderu.
Tapi sel baru yang mulai beradu.
Pun jiwa kelu dan luka pilu.

Harap terus terucap.
Sampai lidah lelah mengecap.
Kenapa sel ini terus tumbuh seperti kurap?
Kuharap segera pergi ditelan gelap.

Aku ingin mundur.
Perlahan dan teratur.
Setelah dunia seolah mengatur,
aku ingin tidur.

Sabtu, 03 Maret 2012

playing word-ing :3 part IV

ketika hati mulai bergemuruh dan mulai mengeluh, kenapa ia tak kunjung tersentuh? padahal hati ini selalu mengaduh. sedikit mengadu, bahwa aku sudah tak mampu.

lidah selalu berkelit. sering luka melilit. ketika ini mulai sakit, kucoba lari lalu menjerit sebelum benar-benar menjadi penyakit.

masih dipertanya? ketika Maestro berkarya, masihkah kau mencela?

sedikit nyampah untuk coretan sampah. segala yang tumpah, selalu menjadi sampah. tak terlintas apa yang tercurah, selalu akan menjadi sampah.

ketika hati menjadi bangkai, sesuatu akan terbengkalai. pun yang indah terbingkai juga luka yang menyeringai.

-nikenprobowati-

Jumat, 02 Maret 2012

playing word-ing :3 part III

Tuhan? Aku meminta bukan menyita

ketika yang kupinta tak kunjung nyata
haruskah aku buta untuk menyita?
ketika terbata untuk berkata
haruskah aku berdusta dalam dada?
ketika asa tak juga terasa
haruskah aku terbiasa mereguk dosa?
ketika rasa kembali tersiksa
haruskah aku bersuka dalam duka?
ketika bertahan tanpa harapan
haruskah aku tetap bertahan dan selalu tanpa harapan?

-nikenprobowati-

Kamis, 01 Maret 2012

playing word-ing :3 part II

rindu ini semakin menjadi. bahkan hingga tahap komplikasi. andai yang disana mengerti...

Setiap pagi aku membuka mata, dalam sekejap perasaan itu menghilang. Ingin rasanya mencicipi indahnya mimpi. Ketika matahari membentang, semua menghilang. Yang kurasa hanya bahagia yang membekas. Hanya membekas. Namun tetap terasa sampai malam kembali datang. Dan aku benci ketika matahari kembali mencaci. Mencaci diri, yang tidak mau beranjak dari mimpi. Aku senang ketika mulai lelap. Ketika ibu datang, mengajakku berkeliling dan hal-hal yang menyenangkan lainnya. Hal-hal yang pernah kita lakukan berdua. Dan aku tak mau membuka mata karena yang kusadari setelah membuka mata hanyalah.. mimpi. Ketika terpaksa kubuka, yang kusadari bahwa semua tak bisa kembali. Semakin rumit ketika ibu benar-benar pamit. Semakin tak ingin bangun dari lelap yang menyergap.

rindu ini semakin menjadi. bahkan hingga tahap komplikasi. andai yang disana mengerti...

-nikenprobowati-

playing word-ing :3

angin itu menyejukkan. tiba-tiba menyusup dalam keheningan. melewati jendela yang terbuka sebagian. namun terasa menyakitkan.

berdiam dalam keadaan. sebuah ironi tergariskan. menyenangkan dan menyedihkan.

hidup ini indah tapi tak mudah. melilit segala gundah juga pertanda. semoga ada canda yang segera melanda.

aku tak galau. bukan mengacau. ketika hati semakin parau kucoba bangun dari mengigau.

tak bisa diukur dari garis. namun dari keris dan berapa dalam ia mengiris.

cobalah paham segala tanda yang mengilham. geram dan kelam semoga cepat meredam.

-nikenprobowati-